Debat Kusir Yang Cantik 3
Sabtu, 2 Jan '10 15:04
PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN
Sutradara: Hanung Brahmantyo
Pemain: Revalina S. Temat, Oka Antara, Widyawati, Reza Rahadian, Joshua Pandelaki
Penulis: Hanung Brahmantyo & Ginatri S. Noer-Aristo
Hanung Brahmantyo memang dianggap salah satu sutradara muda Indonesia yang piawai. Lewat karyanya, Hanung sudah meraih 2 Piala Citra sebagai sutradara terbaik untuk film Brownies dan Get Married. Selain itu, Hanung pun dianggap sebagai sutradara yang bertangan dingin melahirkan film-film yang laris manis, seperti Ayat-Ayat Cinta.
Perempuan Berkalung Sorban adalah film layar lebar kesepuluh karya Hanung Brahmantyo dalam lima tahun karirnya sebagai sutradara profesional. Di film ini, Hanung telah mempertontonkan kematangan teknis yang mumpuni. Gambar-gambar dan dramaturgi yang dibesut dengan baik dan cantik. Tetapi sayangnya, film tidak sekadar soal teknis, melainkan juga soal gagasan.
Film dibuka dengan membawa penonton mengunjungi Al Huda, pesantren Salafiyah di Jawa Timur pada era 1980-an. Berkenalanlah dengan gadis kecil bernama Anissa, putri Kyai Hanan pimpinan Pesantren Al Huda. Meskipun masih kecil, Anissa adalah gadis yang kritis. Dia mengamuk ketika dipaksa mengalah dalam pemilihan ketua kelas. Dia pun ingin belajar menunggang kuda. Hal-hal semestinya yang wajar, namun tidak bisa ia lakukan, karena dalam tradisi pesantren Salafiyah yang dipimpin ayahnya, mengenal banyak batasan untuk kaum wanita. Anissa protes dengan menyebut beberapa tokoh perempuan terkemuka dalam sejarah perkembangan Islam. Namun protesnya hanya dianggap rengekan anak kecil. Cuma Khudori, bocah yang masih terhitung pamannya, yang mau mendengarkan protes-protes Anissa dan menawarkan perspektif lain tentang dunia. Namun tak lama, karena Khudori harus menuntut ilmu ke Al Azhar, Mesir. Sementara di pesantren, Anissa terus belajar tentang hadist-hadist yang mengecilkan dan mengucilkan peran wanita. Anissa tumbuh dewasa dengan pemikiran bahwa Islam tidak adil bagi wanita.
Selanjutnya Anissa beranjak remaja. Dia bercita-cita melanjutkan pendidikan tinggi di sebuah Universitas Islam di Yogyakarta dan bahkan mendapatkan beasiswa untuk itu. Sayang cita-citanya harus kandas ditentang Kyai Hanan. Alih-alih kuliah, Anissa malah dipaksa menikah dengan Samsudin, putra seorang Kyai dari pesantren salafiyah besar. Dengan menikahi Samsudin, Anissa membantu mengembangkan pesantren yang dipimpin ayahnya menjadi lebih besar.
Dan derita Anissa semakin menjadi-jadi. Suaminya yang anak Kyai besar ternyata pria keras berperangai kasar. Tak jarang Anissa menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Puncak deritanya adalah ketika muncul Kulsum, wanita yang dihamili Samsudin. Keluarga merestui Samsudin berpoligami, Anissa pun hidup bersama dengan istri muda suaminya.
Khudori akhirnya pulang dari Mesir dan menemukan Anissa telah menikah dengan Samsudin. Anissa memohon pertolongan untuk membebaskan diri dari siksa pernikahan dengan Samsudin. Samsudin rupanya mengetahui hal itu dan menyebar fitnah mengenai perzinahan antara Anissa dengan Khudori. Meski tidak terbukti, Kyai Hanan meninggal mendengar berita itu. Anissa bisa bercerai dari Samsudin, namun terusir dari keluarganya.
Anissa mempergunakan kesempatan ini untuk melanjutkan kuliah. Dia menggunakan pengalamannya untuk bekerja di sebuah NGO yang menolong wanita-wanita yang hidup dalam belenggu kekerasan dalam rumah tangga. Dengan hidup mandiri, Anissa pun bisa mempelajari pemikiran-pemikiran baru. Anissa begitu terinspirasi salah satunya oleh ide-ide kebebasan, kemerdekaan dan karakter Nyai Ontosoroh yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Bumi Manusia.
Pertemuan kembali dengan Khudori melancarkan hubungan cinta keduanya. Meskipun dibayang-bayangi trauma akan kegagalan pernikahan pertamanya, Anissa menerima pinangan Khudori untuk menikah. Khudori juga pria yang cukup sabar menunggu Anissa pulih dari segala rasa takut yang menderitanya. Namun cobaan ternyata belum berhenti menghampiri keduanya.
Film ini dituturkan lewat alur sangat lancar dan jelas, membuat penonton dengan mudah mencerna jalan ceritanya. Gambar-gambar cantik pun hadir membantu pemahaman terhadap ide-ide yang disodorkan. Kualitas akting para pemain di atas rata-rata. Meskipun alumni sinetron, akting Revalina S. Temat sangat memukau dan luar biasa (soalnya biasanya di sinetron). Saya berani menyebutkan bahwa Revalina adalah aktris terbaik di 2009. Yang juga sangat memukau adalah penampilan Widyawati yang kali ini tampil solo. Penampilan Widyawati ini berhasil membawanya sebagai Best Supporting Actress dalam The 53rd Asia Pacific Film Festival. Joshua Pandelaki dan Reza Rahadian juga tampil sangat cemerlang. Dalam hal ini, Hanung memang boleh kita acungi jempol soal memilih pemain berpengalaman.
Skenario yang ditulis Hanung Brahmantyo bersama Ginatri S. Noer-Aristo ini dengan fasih membangun logika-logikanya di tahap awal. Berbagai hadist pun terucap untuk mengukuhkan status keterkungkungan Anissa dan problematika yang dihadapinya. Sayangnya hanya di bagian awal film saja. Ketika Anissa sudah bisa mencari pemikiran sendiri, kesempatan itu tidak dipergunakan untuk mencari tafsir atau perspektif lain dalam Agama Islam yang mendukung kaum wanita. Anissa malah mencarinya di buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Well, kita juga kagum dengan Nyai Ontosoroh tetapi kan dia tidak menjawab pertanyaan Anissa soal peran wanita dalam Islam. Sampai akhir film, pertanyaan ini tidak pernah benar-benar terjawab. Seolah-olah sang sutradara mengajak penonton menyimpulkan bahwa dalam Islam, perempuan memang tidak bebas, kalau mau bebas, maka ikuti Pramoedya Ananta Toer.
Padahal sebenarnya, kalau mau dicari sudah banyak cendekiawan Indonesia yang merumuskan formula peran wanita dalam kacamata Islam. Buku-buku mengenai hal ini pun sudah banyak ditulis dan diterbitkan. Dengan tidak memberi perspektif Islam soal ini, film ini jadi seperti ajang debat kusir saja, digugat di sini, eh dijawabnya di sana. Jadi tidak holistik. Sayang sekali, meskipun cantik, tetap saja debat kusir.
Tag: DVD, Film Indonesia, Hanung Brahmantyo
Terkait:
-
Launching DVD Pintu Terlarang
Selasa, 10 Nov '09 18:47 -
Pintu Terlarang: Bloody Beautiful!
Senin, 5 Okt '09 01:18 -
LUST, CAUTION - Forbidden Passion
Kamis, 11 Mar '10 14:15

Komentar:
jadi pesan moral film ini apa?
*wink*
Silahkan login untuk memberikan pendapat