RUMAH DARA (MACABRE) review 20
Selasa, 19 Jan '10 17:01
RUMAH DARA : " Ada apa sih sebenarnya dirumah ini? "
oleh : Apatis Vian
Produce, Written, and Directed by : Mo Brothers
Cast :
Julie Estelle, Shareefa Danish, Arifin Putra, Ario Bayu, Sigi Wimala, Dendi Subagil, Ruly Lubis, Imelda Therin, Daniel Mananta, Mike Luckock.
and special apperiance by: Aming and Joko Anwar
Tanggal 22 januari mungkin akan menjadi tanggal keramat bagi perfilman indonesia..
Ditanggal itu, tepat setahun lalu, sebuah film thriller brilian Indonesia yg berjaya di penghargaan internasional PINTU TERLARANG karya Joko Anwar di-rilis.
Dan (entah disengaja atau tidak) tepat setahun setelahnya, RUMAH DARA yang juga memiliki prestasi tidak kalah membanggakan dengan Pintu Terlarang (ahirnya) kemudian di rilis resmi di Indonesia setelah melanglangabuana di berbagai festival film internasional, dan bahkan justru tayang lebih dulu di Negara tetangga kita Singapura.
Sebuah prestasi yang cukup membanggakan untuk sebuah film ber-genre horror yg biasanya dipandang sebelah mata.
Film ini merupakan extended-version dari critical-acclaimed short movie DARA karya duo Kimo Stamboel dan Timo Tjahyanto yg tergabung dalam The Mo Brother’s yang keluar pertama kali dua tahun lalu, dan sempat diputar secara luas dengan tergabung dalam anthology horror Indonesia TAKUT.
Campurkan film-film Slasher masterpiece seperti Texas Chainsaw Messacre, dan beberapa slasher dahsyat dari sineas ekstrimis Perancis (yang sepertinya sangat meng-influence Mo brothers) seperti Sheitan, Frontiere(s), Haute Tension, dan pastinya A L’ Interieur (INSIDE) beserta berpulu-puluh gallon darah sintetik kedalam sebuah mesin penggiling daging, dan kalian akan mendapatkan output berupa… RUMAH DARA.
Penjiplakan? Ya…kalau unsur-unsur dalam film yang saya sebutkan itu di copy-paste mentah-mentah oleh Mo Brothers dan lalu dijadikan template untuk film mereka ini, itu bisa saja disebut penjiplakan.
Tapi kalau menggabungkan unsur-unsur itu dan justru menghasilkan sesuatu yang lebih baru, lebih fresh dan bahkan lebih bagus dari sumber aslinya… itu di sebut Homage.
Dan tentu saja yang Mo Brothers lakukan adalah Homage.
Dan untuk homage kepada genre slasher ini, Mo Brothers menurut Saya sangat berhasil, dan tanpa bermaksut berlebihan bisa dikatakan Mo Brothers justru menghasilkan karya lebih baik dari objek homage-nya itu.
Tidak ada yang special dari plot RUMAH DARA sendiri sebenarnya.. Good Versus Evil. Sangat tipikal Slasher. Untuk yang sering menyaksikan sajian slasher pasti sudah sangat hafal dengan pola berikut ini :
1. Sekelompok anak muda
2. Digiring oleh sang pengumpan (dalam hal ini sang umpan bernama Maya diperankan Imelda Therine)
3. Memasuki sebuah rumah dengan penghuninya yg janggal (Sebuah keluarga ‘iblis’ berwujud manusia yang dikepalai oleh Ibu Dara)
4. Pembantaian demi pembantaian.
5. Survival alias heroine yang bertahan (yang dalam genre slasher terkenal dengan sebutan “final girl”)
6. Final battle antara The Killer vs final girl.
Siapa yang menang? Silahkan saksikan sendiri filmnya…
Jujur, memang tidak ada hal baru dalam pola yang dihadirkan itu, tapi bagaimana Mo Brothers mengemas filmnya keseluruhan, itulah justru yang pantas saya berikan standing ovation.
Pase filmnya sangat pas, dialognya mengalir dengan lancar tanpa banyak cing-cong yang tidak perlu.
Saya sangat salut dengan cara Mo Brothers memperkenalan karakter-karakternya dan konflik singkat diawal film. Padat dan singkat tapi sangat informatif . Satu hal yang sangat jarang saya temui di film Indonesia yang biasanya membutuhkan waktu berpuluh-puluh menit yang membosankan hanya untuk menjabarkan satu karakter dan satu permasalahan saja, itupun biasanya tidak berhasil.
Backgound kisahnya memang tergolong sederhana… terlalu sederhana malah menurut Saya. Tapi Saya rasa memang hal itu disengaja oleh Mo Brothers, karena memang cerita yang terlalu berbelit-belit besar kemungkinan akan menjadi sajian yang membosankan untuk sebuah slasher.
Dan Saya juga bersyukur Mo Brothers menghindari premis try-too- hard-to-be-smart seperti yang sering dilakukan oleh sineas Indonesia lainnya, yang seringkali malah membuat filmnya bukannya menjadi kelihatan pintar, tapi malah terpuruk kedalam jurang kebusukan yang akut.
Sepertinya memang bukan kisah yang mendalam yg menjadi jualan film ini, tapi serentetan teror yang mencekam dari adegan-adegannyalah poin plusnya. Dan untuk itu Mo sangat berhasil. Bahkan Mo Brother tidak memerlukan waktu yang lama untuk memulai “neraka” terror dari film ini. Kira-kira 15 menit film berjalan, terror langsung dimulai. and mark my words… terror tidak berhenti sampai film berahir, jadi siapkan jantung kalian!
“Neraka” penuh terror itulah yang menjadi keunggulan film ini. Mo Brothers benar-benar berhasil mengobrak-abrik emosi penonton dengan serentetan terror yang tercipta dari sosok iblis bernama Dara dan keluarganya yang seakan tidak pernah kehabisan akal untuk menyiksa karakter-karakter dalam film ini.
Tensi yang dihasilkan sungguh tingkat tinggi. Bahkan jujur saja, sekali lagi tanpa bermaksut berlebihan, tensi film ini melampaui tensi film yang selama ini ada di posisi atas sebagai film paling menegangkan dengan tensi paling tinggi yang pernah saya tonton HAUTE TENSION (sesuai judulnya) karya Alexandre Aja dan The Descent karya Neil Marshall atau yang lebih klasik mungkin The Shinning nya_Stanley Kubrick yang membuat Saya nyaris susah bernafas saat menonton filmnya. Rumah Dara benar-benar Breath-taking!
Teknisnya tidak perlu diragukan lagi. Semua Perfecto. Sinematografinya top-notch, scoring yang mencekam ( Lagu “Cinta Matiku” yang menjadi OST film ini simply brilliant), dan satu hal yang paling Saya perhatikan saat menonton film yang mengumbar adegan bloods-bath seperti ini adalah efek darahnya. Darah-darah yang berceceran di film ini sungguh mengagumkan, benar-benar terlihat real. Salut untuk tim make-up effectnya juga yang membuat luka-luka disekujur tokoh-tokoh di film ini benar-benar terlihat nyata tanpa kelihatan fake sama sekali.
Belum lagi eksekusi untuk adegan-adegan gore-nya yang sangat realistic yang membuat penonton berteriak-teriak. Totally fucked-up!
Dari segi actingpun smua cast berakting solid dan pas.
Daniel mananta, Mike Luckok, Dendy Subagil pas dengan karakter happy-happy-joy-joy nya. Ario Bayu tetap dengan karakter ke-bapakannya .Imelda Therine cocok dengan karakter seducer alias bitch nya. Dan Julie Estelle mengagumkan sebagai heroine, juru kunci alias final girl.
Sigi Wimala juga sangat meyakinkan sebagai ibu hamil (yang mengingatkan Saya (lagi-lagi) akan Allison Paradys di Inside sbagai ibu hamil paling sial di dunia).
Dan Arifin Putra dengan tampang lugu-nya tampil cukup mencengangkan sebagai pembunuh berdarah dingin.
Dan sorotan utama dari segi acting tentu saja…siapa lagi kalau bukan Shareefa Daanish. Sekarang Saya tidak heran lagi kenapa Daanish berhasil memenangkan penghargaan sebagai best actrees di Pucheon International Fantastic Film Festival kmarin. Daanish benar-benar seperti kerasukan sosok Dara. Seolah karakter Dara memang diciptakan untuk dia. Dara adalah Daanish dan Daanish adalah Dara.
Gesture wajahnya sungguh mengerikan. Mungkin karakter Dara akan menjadi karakter terbaik sepanjang karir Daanish yang mungkin akan sulit tergantikan sampai kapanpun.
Tapi dengan kegemilangan aktingnya tentu saja tak mungkin tanpa cela, terus terang saja awalnya saya cukup terganggu dengan gesture bicaranya dengan tone suara yang “diberat-beratkan”. Malah terkesan agak dipaksakan dan tidak natural, walaupun tidak mengganggu sosok Dara yang devilish secara keseluruhan.
Tapi percayalah, gesture suara Ibu Dara akan menjadi classic dan akan terus dikenang sepanjang sejarah film horror seperti gesture suara ratu horror suzzana misalnya. Dan kalimat “ENAAAK KHAAAN?” yang keluar dari mulut Dara mungkin akan menjadi One of most memorable movie quote ever.
Overall, Saya sangat setuju dengan pendapat Joko Anwar, RUMAH DARA adalah film horror terbaik yang pernah dibuat di Indonesia, dan salah satu terbaik ever di-genre nya.
Ditengah semakin berantakannya keadaan perfilman kita (khususnya untuk genre horror-comedy dan horror-sex yang smakin hari smakin tidak bermutu, menyesatkan, dan pembodohan masal kepada masyarakat) Rumah Dara seperti membawa angin segar tersendiri.
Film ini seperti mengembalikan lagi Ambience menonton film horror yang sesungguhnya, yg sudah sangat lama saya nantikan hadir di perfilman kita. Penonton berteriak, menahan nafas, memegang kursi erat-erat, mengutuk, ikut cemas dengan karakter heroine nya, dan mengumpat keras-keras ke tokoh villain di layar bioskop, dan bahkan bertepuk tangan saat sang Villain mengalami kegagalan, semua reaksi natural penonton sangking terbiusnya dengan adegan horror di film ini, suasana menonton film horror lokal yang mungkin belum pernah sekalipun Saya temui sebelumnya.
Yeah… Bukan tidak mungkin Slasher akan menjadi trend perfilman Indonesia di 2010. Big thanks to Mo Brothers!BRAVO!!!
SLASHER-O-METER: 10/10
Tag: RUMAHDARA
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Haryo: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
Chika: Mencekam
-
venus spice: Good Take
-
sabai: Informatif
-
kucing_usil: Informatif
-
kucingsapi™: Informatif
-
Gambliz: Good Take
-
potretkaca: Keep Rolling
-
Si Pisau Terbang: Informatif
-
fairyteeth: Good Take
-
gigi kuda: Good Take
-
ibhe: Informatif
-
oksbangs: Informatif
-
Bangnono: Good Take

Komentar:
Waktu ntn premier Pintu Terlarang (yg uncensored) aja banyak tutup mata krn males liat darah terlalu banyak... Apalagi film ini...
yuk sabai nonton
N.B: coba ah ntar pelan2 memberanikan diri nonton beginian, nonton Hostel aja kepala udah puyeng....hehehe, padahal cuma sekadar adegan mata "di-las", wakakakakakaka..................
awalnya saya kira bakal menjadi kisah yang rumit, yang mengundang tanda tanya di benak penonton yang mencoba menebak-nebak kejadian selanjutnya
dan ternyata..
saya salah, penilaian saya sangat buruk untuk film ini, dari segi cerita saya kira biasa, jauh lebih bagus film pintu terlarang (kalau mau dibandingkan). Film yang kesannya hanya mengumbar "darah" ini (setelahnya baru saya tahu, genre-nya slasher) saya rasa hanya menonjolkan sisi sinematografis. Bolehlah kalau semua orang menilai bagus film ini dari segi efek, angle, musik, dll.
tapi tidak untuk "bias efek" yang dihasilkan oleh film ini.. Bagaimana jadinya nanti kalau penontonnya MENIRU tokoh-tokoh itu? perlu dipikirkan?
ntar komen lagi dah..
karakter favorit : arman. sadis tapi charming *kyaaaa*
cuma jujur aja gw kganggu bgt sm cara motong LSF yang bikin gak total terornya...kliatan bgt nyensornya kasar.. saat adegan potong kepala, misal ada kepala yg jatoh ya dibiarkan sajalah pak/bu LSF!!! toh kita juga tau klo itu kepala dipotong....
dan gw sdikit bertanya apa ini felm box offis / gak? fyi kmaren gw nonton di semarang, penontonnya bisa diitung jari, pdhl menurut gw pantesnya ni felm laku keras!!!
tapi emang rumah dara ini pilm yang bagus lah...
Dan tentu saja, darah tidak pernah menghibur saya +_+
Silahkan login untuk memberikan pendapat