Let's Swing Ladies and Gentlemen!!! 6

Selasa, 2 Feb '10 06:17

Apa sih yang berharga dari menyaksikan sebuah "feel good" movie?

Selain terhibur, saya akan menyebutkan aspek buatan saya sendiri "unpredictability on predictable circumstances"

Apaan tuh? Hehehehe, saya sendiri juga ga terlalu paham (doh!).

Maksud saya begini, "feel good" movie memang selalu bertujuan untuk menyemarakkan suasana. Ia adalaah film yang bergerak dalam jalur yang kapabel mengatur emosi setiap penonton untuk sampai pada tujuan akhirnya "feel good" melalui racikan yang pas - bahkan saat memakai formula yang sama berulang-ulang. Untuk itulah, saya pribadi mengukur keberhasilan sebuah film "feel good" dari keberhasilannya memberi saya "kejutan dari sebuah upaya yang bisa ditebak".

"Swing Girls" menerapkan aspek itu dengan sangat balance. Siapa sih yang tidak familiar dengan plot "from zero to hero", perjuangan meraih mimpi, komedi menggunakan karakter kalah komikal? Hollywood banget lah. Tapi tunggu dulu, plot semacam itu, jika tidak diramu dengan pas, maka hasilnya adalah repetisi. Kemungkinan terburuk, jika konteksnya film komedi, kita akan gagal tertawa. Yaguchi Shinobi menyiasati kemungkinan itu dengan apik. Beri penonton setumpuk heroin kelas kakap di bagian soundtrack yang berisi banyak sekali aransemen swing jazz maut, aktris cantik menyegarkan yang memenuhi layar nyaris sepanjang film, dan plot yang manusiawi plus menyentuh. Voila! Jadilah ia tontonan yang menyegarkan untuk membuat hari kita menjadi lebih berwarna.

Cerita simpel ini dimulai saat musim panas begitu menyengat dan menyiksa di Jepang sana. Sekelas murid cewek "malas" dan hanya tahu soal shopping  terpaksa mengikuti kelas tambahan matematika. Saat mereka nyaris mati kebosanan, mereka menemukan ide membolos dengan alasan membantu mengantarkan bekal regu Marching Band yang tertinggal. Karena mereka biang kerok, seluruh regu Marching termasuk guru pembina akhirnya sakit perut, dan terpaksalah mereka menggantikan mereka melaksanakan tugas menjadi Marching Brass band - yang berakhir absurd karena mereka mendapatkan personel tambahan dua orang punk rock girls dan tentu, seorang karakter pendukung berupa cowok nerd pemain piano yang mengusulkan ide agar mereka merubah format menjadi big band jazz.

Terdengar klise? Memang. Saya juga sudah bilang dari tadi. Tapi jalan agar karakter - karakter cewek bermasalah yang diperankan dengan apik oleh Juri Ueno, Tomoko Suzuki, atau Shihori Kanjiya, akhirnya jatuh cinta pada musik sangat menghibur. Ceritanya unbelievable, komikal khas manga Jepang, tapi emosinya sangat nyata. Karakter Tomoko yang sudah percaya bahwa dirinya adalah orang tidak berguna, Pak guru Ozawa yang sangat mencintai musik - tapi sangat tidak berbakat main musik-, atau Saito yang perlu tikus agar mampu mencapai nada tinggi saat meniup terompet, adalah gambaran yang secara cerdas berhasil disampaikan oleh Yaguchi selaku sutradara. Kesamaan karakter film ini dengan karya Yaguchi sebelumnya "Waterboys", akhirnya jadi benang merah. Di "Waterboys" ia masih mencari-cari formula yang pas, sementara di film ini, ia sudah matang membangun kisahnya.

Baidewei, buat apa saya berbusa-busa bicara disini kalau saya lupa membahas aspek utama film ini yaitu "musik" saudara-saudara. Ya, musik, dan musik, dan musik. Orang yang anti-jazz sekalipun akan mencintainya karena passion film ini. Di situ letak utama ingredient film ini jika kita komparasikan dengan film bertema sejenis. Passion akan rock, membuat besutan Linklater "School of Rock" membekas di ingatan kita. Passion akan "Gospel" membuat kita selalu merujuk "Sister's Act". Dan tampak betul, Yaguchi amat paham apa esensi sebenarnya swing jazz. Karena itu kalau saya masih mempermasalahkan lubang di plot, atau banyak bloopers lainnya, status saya hanya movie buff amatiran. Yang perlu dilakukan hanyalah menikmati, dan biarkan musik yang berbicara.

Memorable quotation dari film ini akan selalu terngiang dalam kepala kita usai menyaksikan film produksi tahun 2004 tersebut, "There are two kinds of people in this world....people who swing, and those who don't". Certainly, this film does swing too.  

   


Tag: swing, Yaguchi Shinobu, musikal

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
apakah di jakarta film ini hanya bisa didapatkan DVDnya?
atau ada harapan bakal main di..um.. blitz kali?

i love feel good film...
ibhe 0 0
OST nya menarik. even if you're not into jazz
nice movie indeed : )
jokotarub 0 0
aye kagak demen musik jazz...
kira2 masih bisa asik nonton film ini gak ya? atau malah bakal ketiduran ?
Gambliz 0 0
sabai: Pasti ada, lo ga ada source internet amat berlimpah : D
ibhe: yupz....saya sampai bela2in cari DVD live concert para aktris dan aktornya, karena mereka betul2 bisa mainin alat musik di semua track film ini....
jokotarub: kalo ketiduran saya berani jamin ga bakalan soalnya kocak abis, kalo soal musik anda at least bakal paham kenapa ada orang yg suka sama jazz : )
Bangnono 0 0
saya belum nonton nih.. cari dulu aah: )
justnisa 0 0
saya sudah lama nonton film ini dan suka sekali : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat