"Changeling" yang Menantang Pemahaman Kita Soal Feminisme 6

Sabtu, 6 Feb '10 00:49

Dahulu saya menyaksikan "Changeling" tanpa persiapan atau ekspektasi apapun. Tapi lewat film itulah saya ditakdirkan untuk belajar memahami hakikat "peran seorang Ibu" (dalam konteks ini kita dapat mengasosiasikannya dengan dorongan naluriah perempuan) secara lebih universal. Jargon - jargon emansipasi perempuan, kasih sayang seorang ibu pada anaknya, serta lebih jauh lagi perjuangan manusia untuk mencari kebenaran tidak pernah klise dalam dunia yang ditampilkan Eastwood. Lebih menohok lagi, kisah di film tersebut berpangkal dari sebuah narasi yang benar - benar terjadi di Amerika tahun 1920-an.

Kisah berpusat pada sosok seorang single parent di Tinseltown, Los Angeles (yang diperankan dengan cukup apik oleh Angelina Jolie, setelah cukup lama ia mengubur sendiri potensi keaktoran tingkat wahidnya itu dengan bermain di beberapa film Blockbuster kacangan) bernama Christine Collins. Penyelia sambungan telepon itu nyaris tanpa cela dalam hidupnya. Berprestasi di tempat kerja (karena mampu bersaing dengan sejawat lelaki - hal yang belum terlalu lazim pada masa itu), mampu merawat anak semata wayangnya, serta memang punya potensi menarik perhatian lawan jenis.

Kesempurnaan itu runtuh saat anaknya secara mendadak menghilang dari rumah. Kepanikan mulai ditampilkan pada penonton secara pelan - pelan. Kisah pencarian anak hilang ini, tidak dibangun sedramatis Ben Affleck saat menyodorkan kisah serupa di "Gone Baby Gone". Konflik secara perlahan datang, silih berganti, mulai dari tanggapan pihak kepolisian Los Angeles yang lamban, masuknya advokasi pihak gereja yang berusaha membuktikan borok LAPD yang dituduh korup dan kejam, hingga berpuncak pada gerakan massal melawan ketidakadilan jender. Pertanyaan perihal moralitas dan ambiguitas hukuman mati juga sedikit banyak ditampilkan disini, melalui sosok Arthur Hutchinson, pedofil maniak penyebab kasus ini bermula.

Begitu banyak hal diungkap oleh Eastwood, dan sayangnya itulah kelemahan teknis film ini. Barangkali usaha itu ditempuh untuk menjaga akurasi sesuai kisah nyata yang terjadi, namun dibanding film - film Eastwood yang lain - dengan ciri khas emosional, gelap, dan kadang bergelora, namun fokus - "Changeling" terasa sedikit datar, dan terlalu "dingin" serta kadang tidak memebri pijakan bagi penonton untuk memamah pesan yang disampaikan. Aspek yang paling kuat justru muncul bukan dari fragmen perjuangan Christine yang tidak kenal lelah mendapatkan kembali sang buah hati, namun pada betapa banyak kepentingan ingin bermain dari perasaan seorang individu.

Baik kepolisian (dengan menjalankan skandal pemalsuan dan mengirim Collins - yang bersikeras bahwa anak yang ditemukan polisi bukanlah anaknya yang sebenarnya - ke rumah sakit jiwa demi menjaga citra), hingga pihak gereja lewat representasi pendeta Gustav Briegleb (diperankan dengan cemerlang oleh John Malkovich) yang amat bernafsu menghabisi integritas kepolisian dan secara tidak sadar memaksakan Christine menjadi pion ambisinya menyulut aksi massa menentang kesewenang - wenangan birokrasi kota.

Salah satu aspek yang kuat pula dari film ini adalah kebersahajaannya mengusung isu kesetaraan jender. Memang, di film ini digambarkan perlawanan perempuan yang di"institusioanlisasi"kan karena melawan dominasi patriarki. Namun, apa yang dilakukan Christine menentang tindakan aparat di rumah sakit jiwa pada perempuan jauh dari cita - cita luhur feminis kontemporer. Apa yang ia lakukan lebih menyerupai kisah Christine Perkins dalam "The Yellow Wallpaper". Sebuah memoar istri yang di "gila" kan oleh kuasa medis patriarki. Jauh dari kesadaran akan kesetaraan dan jargon - jargon mewah lainnya, kedua perempuan tersebut menyerang titik pusat keangkuhan patriarki lewat kesadaran epistemologis dan afektif mengenai rasa sakit pada pengekangan hak hidup seorang manusia. Fitrah manusia memang tidak rela dikebiri ruang hidupnya oleh manusia lain, lepas dari apakah ia laki - laki atau perempuan.

Karya ini bukan yang terbaik dari katalog Clint Eastwood, terlebih karena ia membebani kita terlampau banyak momen untuk berkontemplasi. Namun jika kita menyisihkan beberapa aspek, dan fokus pada peran Angelina Jolie saja, mungkin ada jalan yang lebih lapang - bagi kita untuk merefleksikan posisi - ditengah hiruk - pikuk psikologi massa sepanjang film.

Di akhir kisah kita dipaksa secara halus untuk balik menanyai diri kita sendiri. Apakah keberpihakan kita pada hak-hak perempuan memang tulus, atau sebetulnya masih banyak diboncengi tujuan lain? Di hadapan dua macam muara pilihan itupun, kita masih harus berfikir keras mencari jawaban yang paling jujur. 


Tag: Eastwood, Jolie, Jender

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
sama, saya juga nonton ini krn pengin nonton aja, tanpa ekspektansi apa-apa meski sudah denger dari sana-sini AnJol aktingnya dipuji.

saya nggak ngerasa ada terlampau banyak momen utk kontemplasi. ketika nonton pun lepas aja, nggak pake mikir soal pembelaan hak perempuan dll. dinikmati aja setiap adegannya.

overall malah saya tersentuuuuh banget ntn film ini... mungkin krn saya ngebayangin kalo saya mengalami apa yg dialami AnJol pasti rasanya mau mati aja! yes, she has done a great job.
ibhe 0 0
karena Clint Eastwood membuat film ini, saya harus menonton. film ini menyentuh sangat. ekspresi jolie dan beberapa aktor cukup menyeret. two thumbs up
jokotarub 0 0
ibhe: itu mangsudnye dua jempol gitu yak buat nie film?
aye tonton daaaah...
belon maen di bioskop kan? tinggal nunggu daaah...
Gambliz 0 0
jokotarub: aduh, cari DVD ori-nya aja...ini film lama..dah dari tahun 2008 lalu....
sofie 0 0
kayaknya mesti nonton, dari dulu saya gak begitu tertarik dengan film ini. belum bisa berkomentar karena ada beberapa kalimat disini yang agak bertolak belakang : D *nonton filmnya dulu aaaahhh* ; ))
Donald Duck 0 0
memang agak terlalu meluas yah masalah yang ditampilkan di film, tapi keseluruhan ini film keren koq
jokotarub: kadang film bagus emang ga tayang di bioskop Mas, cari aja originalnya udah ada koq Mas

Silahkan login untuk memberikan pendapat