Merekam Sosok Ayah lewat Memoar 6
Sabtu, 6 Feb '10 00:39
Saya gagal mengenal sosok ayah barangkali. Permasalahan serupa dialami oleh sastrawan Inggris Blake Morrison. Bedanya,ia menuangkan pengalaman yang gamang tersebut kedalam memoar. Persis seperti yang dilakukan Raimon Gaita,seorang ilmuwan Australia, dimana pengalaman kegetiran masa kecil bersama ayahnya begitu menyentuh dan berhasil dituangkan dengan indah dalam format seluloid dalam film "Romulus My Father". Menyaksikan "And When did You Last See Your Father" anda akan mengalami sensasi serupa. Film ini terasa amat personal, dan dalam beberapa momen terasa menohok.
Ingin sekali rasanya mengais kembali kepingan - kepingan memori masa kecil hingga sekarang - untuk kemudian meramunya menjadi sebuah memoar yang betul - betul berfungsi sebagai penanda hidup - didorong oleh nilai magis dari meoar itu sendiri. Saya mencoba berfikir berulang kali, bahwasanya setiap orang memiliki "ada"nya sendiri yang membuat ia begitu "otentik", meminjam konsepsi Heidegger, ditengah perjalanan hidup yang seringkali membuat kita bagaikan buih kecil di lautan "das man" - sekumpulan manusia yang tidak memiliki otentisitas - dan cenderung tenggelam dalam ritme hidup kebanyakan.
Oleh karenanya, menarik sekali mencermati bahwa kisah hidup Blake Morrison yang sebetulnya serupa dengan pengalaman hidup berjuta - juta manusia lainnya, dengan kualitas kisah masing -masing, bisa diramu sedemikian rupa sehingga dapat membuat kita terpukau. premis kisah "AWDLYSYF" (maaf apabila tidak nyaman melihatnya, karena judul film ini terlampau panjang) sebenarnya amat sederhana. Blake Morrison mengenang kembali segala momen yang pernah ia alami bersama sang ayah - yang entah mengapa amat ia puja sekaligus benci. Di satu sisi ia mengagumi kemampuan ayahnya untuk berinteraksi dengan orang lain, serta karisma kuat yang selalu terpancar dari segala gerak - geriknya ( Arthur Morrison yang karismatis ini diperankan dengan luar biasa oleh aktor senior Inggris, Jim Broadbent). Sementara, figur ayah yang begitu menonjol, membuat Blake berada di bawah bayang- bayang yang amat menekan. konfilk klise masalah sekolah misalnya (si ayah ingin ia menjadi dokter agar punya jaminan hidup dimasa depan, sementara Blake lebih memilih kuliah sastra, dan nantinya menjadi penyair kondang), masih memiliki relevansi untuk diolah menjadi konflik batin yang menyentuh dan amat manusiawi.
Terlepas dari gaya penceritaan Anand Tucker (sutradara muda Inggris berdarah jerman India, dan film ini merupakan film keempatnya) yang amat lambat, dan potensial untuk ditinggalkan penonton awam ditengah cerita, detail yang dibangun memang kokoh untuk kemudian menjelaskan pada kita, bagaimana hubungan rindu dendam Blake sepanjang film pada sosok ayahnya sebenarnya merupakan perjuangan untuk berdamai dengan segala masa lalunya. Sebuah perjalanan ulang alik untuk mengakhiri segala pengalaman pahit (pangalaman seksual, cintanya yang terlarang, serta kecemburuan pada sosok bibi yang ia sangka menjalin hubungan gelap dengan sang ayah).
Ihwal yang paling menyentuh,dan momen inilah yang paling dekat dengan pengalaman saya sendiri, saat Blake mengharapkan ayahnya mengakui segala pencapaian yang ia dapatkan (sebagai seorang penyair). Ia amat ingin,diujung hidup ayahnya, agar orang tua itu memandangnya sebagai pria dewasa dengan jalan hidup sendiri. Jujur saya pun mengalami hal semacam itu, dimana kegamangan seorang anak adalah kegamangan untuk memilih. Apakah ia akan menuruti keinginan orang tua, ataukah dengan sadar memilih laku hidupnya sendiri. Dua macam pilihan itupun tidaklah mulus dari terjalnya halangan. namun satu hal yang pasti, masalah itu akan selesai saat kita tahu orang tua bangga dengan kita apa adanya. Saya pribadi tidak mengetahui apakah orang tua saya, terutama ayah saya, bisa membanggakan sesuatu dari seorang anak bodoh macam saya ini. Namun saya tidak pernah berhenti berharap.
Tag: memoar, ayah, anad tucker

Komentar:
kalo kata mbak sabai, "menggetarkan dan menggentarkan"
well written! dan rating yang saya beri sebenarnya kurang cukup mewakili perasaan saya
Jadi terpikir: mungkin menarik kalau cerpen Iwan Simatupang berjudul "Tegak Lurus dengan Langit" itu di-film-kan kali, ya?
Bwt, mbok tata tulisnya itu diperbaiki, Mas. Bikin rada gimana gitu bacanya
setiap anak dimanapun pasti ingin ayah (dan ibu)nya mengakui pencapaian yang ia dapatkan...
jokotarub: Hahahaha....tergantung kita ngerasain relevansi ceritanya sama kita ga.....tapi liat aja, aku jamin keren lah...karena bersahaja banget film ini, ga melangit menyampaikan kisahnya.....
Silahkan login untuk memberikan pendapat