Man Bites Dog (C'est arrivé près de chez vous) 4
Rabu, 18 Agu '10 10:16
Director : Remy Belvaux;
Producer : Remy Belvaux, Andre Bonzel, Benoit Poelvoorde;
/>Screenplay : Remy Belvaux, Andre Bonzel, Benoit Poelvoorde, Vincent Tavier; Camera : Andre Bonzel
Cast : Benoit Poelvoorde, Remy Belvaux, Andre Bonzel, Jean-Marc Chenut, Alain Oppexxi, Vincent Tavier
"how can you design low cost housing project in total disregard for aestetics? i cant accept that i'm sorry, they thought of planting japanese cherry trees along the lanes in the style of english beach resorts, a truly grand idea but they didn't follow through, thats the shame of it, it was purely cosmetic, just to dazzle them and people feel for it."
Bukan, komentar diatas bukanlah diucapkan oleh mantan mahasiswa arsitektur seperti saya, bukan juga arsitek terkenal, tapi itu adalah komentar Benoit, yang akrab dipanggil Ben, seorang pria Belgia. Pria yang lucu, pintar, jago maen piano. Pria ini adalah kesayangan keluarga, perilakunya selalu menyenangkan keluarganya. Dia juga bisa bikin puisi, tentang sepasang merpati, dia juga suka menyanyi, suka mentraktir teman-temannya, dan pengetahuannya tentang banyak bidang sungguh membuat dia menjadi sosok yang sangat menyenangkan.
But he is a mass murderer
Disutradarai oleh Remy Belvaux, Andre Bonzel dan Benoit Poelvoorde, yang juga berposisi sebagai penulis, kameraman, produser sekaligus pemain dalam film ini. Diambil dengan handheld camera karena memang dimaksudkan sebagai film dokumenter, gambar hitam putih serta tanpa musik latar sama sekali - selain pas Ben bermain piano itu -, menjadikan dokumenter bohong-bohongan ini terasa sungguh nyata. Bercerita tentang 3 orang crew film yang mengikuti kegiatan sehari-hari serang pembunuh berantai yang bernama Ben (yang dimainkan oleh Benoit). Mereka mengikuti Ben berkunjung ke toko orang tua Ben, mewawancarai keluar Ben, diperlihatkan betaba Ben adalah seorang yang sangat disayangi keluarganya....dan kita, sebagai penonton, pun mulai menyukai karakter Ben ini.
Walaupun adegan pertama film ini sudah diperlihatkan adalah seorang pembunuh, seorang penumpang kereta api tak bersalah, dicekeknya ampe mati. Tapi bagaimana Ben bercerita bagaimana metode ia membuang mayat-mayat yang telah dibunuhnya kedalam sungai (penjelasan tentang perbandingan berat batu yang digunakan sebagai pemberat dengan usia korban) terasa cukup membuat kita mengagumi karakter Ben. Narsis, sangat percaya diri, talkactive, pintar dan punya banyak keahlian semakin membuat penonton sedikit mengacuhkan, kalau Ben ini adalah seorang pembunuh, bahkan secara tidak sadar, kita (well...saya mksdnya haha) "menikmati" pembunuhan2 yang dilakukan oleh Ben. Dari anak kecil hingga orang-orang biasa, tapi korban favoritnya adalah tukang pos."I usually start the month with a postman," katanya.
Lihat aja adegan setelah Ben berkomentar terhadap perumahan di paragraph atas, dia mendatangi sebuah rumah di rumah susun ini, disambut oleh seorang nenek, Ben berpura-pura ingin mewawancarainya dan voila..!!Nenek itu dibunuh dengan cara berteriak ke telinganya. Jujur, penjelasan Ben kenapa dia bisa membunuh hanya dengan berteriak sehingga bisa menghemat peluru, berhasil membuat saya kagum akan kepintarannya, sekaligus membuat perasaan benci kenapa dia tega membunuh nenek yang tidak bersalah, hilang begitu saja.
Tapi tentu saja kegiatan "menikmati" ini harus dihentikan, dan film ini memberikannya pada sebuah adegan dimana, Ben memperkosa dan membunuh secara sadis seorang wanita sekaligus suami wanita itu, bersama-sama dengan kru film yang mengikutinya..!!. Bagian ini tidak lucu lagi, Ben sudah sangat keterlaluan kali ini, ini terlampau jauh, sama halnya dengan kru film yang mengikuti Ben, mereka terlibat terlalu jauh kedalam kegiatan-kegiatan Ben. Scene ini benar-benar menjadi titik balik, saya menganggap itu keterlaluan, lah trus bagaimana dengan pembunuhan-pembunuhan sebelumnya..?mengapa saya tidak menganggapnya keterlaluan, padahal efeknya sama, nyawa seseorang dihilangkan disini.
Poin inilah yang sangat saya sukai dari film ini, berbeda dari film bunuh-membunuh lainnya yang kadang hanya memberikan pononton adegan-adegan membunuh yang "menyenangkan" tapi nilai lebihnya malah di bagian lain (storyline ato twist ato efek). Tapi film ini justru memperlihatkan kepada kita, betapa kejamnya sesuatu hal yang dianggap "menyenangkan" untuk dilihat itu. brilliant.
Selain itu, pada bagian cerita dimana Remy dan Andre, kru (fiksional) yang mengikuti kegiatan Ben mengakui kalau mereka dalam keadaan kekurangan dana untuk melanjutkan dokumenter ini, Ben pun dengan bermurah hati membantu memberikan sumbangan kepada kru film ini, dan semenjak itu, merekapun menjadi semacam kaki tangan Ben, dan yup...adegan pemerkosaan itu terjadi. Sungguh sebuah ironi, "mereka" yang seharusnya cuman merekam dan melaporkan kepada penonton apa yang yang sebenarnya terjadi, sekarang malah ikut campur terlalu dalam dalam sebuah kejahatan. Sounds familiar huh? itulah yang dilakukan media pada jaman sekarang ini.
overall.
one of my favorite cult movie...all time!
Tag: review, arddhe, Man Bites Dog
Terkait:
-
A Wednesday
Rabu, 15 Sep '10 16:07 -
A Serbian Film
Kamis, 2 Sep '10 13:52 -
In The Loop
Senin, 16 Agu '10 16:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
kucingsapi™: Good Take
-
kniwe: Good Take
-
AndriaGutama: Good Take
-
Rijon: Good Take
-
Haikalajadeh: Keep Rolling
-
Ringo: Good Take

Komentar:
nice review
sip makasih!
Silahkan login untuk memberikan pendapat