FUNNY GAMES ( 1997 ) : Tamparan Michael Haneke untuk Media + Violence 12
Kamis, 26 Agu '10 21:06
Pada tahun 1971, publik dibuat terkejut oleh sebuah film provokatif karya Stanley Kubrick 'Clockwork Orange'. Di film ini, Kubrick secara gamblang menyampaikan komentar-sosialnya tentang pengaruh tayangan kekerasan kepada masyarakat. Ditahun 1994 giliran Oliver Stone yang men-disturb publik dengan 'Natural Born Killers'. Dan 3 tahun silam, jangan lupain film Eden Lake karya James Watkins yang sangat provokatif mengusung pesan kritik terhadap media + violence. Namun, apa yang dilakukan MIchael Haneke dalam film 'Funny Games' (1997 ) ini ternyata jauh lebih ekstrim dari 3 film yang gue sebut diatas. Setidaknya menurut gue.
Storyline :
Cerita film ini sederhana saja,
Sebuah keluarga ( Georg, Anne dan puteranya Gergie ) memutuskan untuk berlibur ke sebuah rumah-danau.
Baru beberapa saat mereka sampai di rumah itu, 2 orang pemuda lokal ( Paul & Peter ) mendatangi rumah mereka untuk meminta bantuan yang sebenernya sepele.
Telur! ya dua orang pemuda ini meminta beberapa butir telur.
sebagai orang baru di lingkungan itu, Anne mencoba ramah dengan memenuhi permintaan mereka.
namun, 2 orang pemuda ini sepertinya sengaja berbuat ulah dengan selalu saja memecahkan telur2 itu dan meminta ganti. Bukan hanya itu, salah satu diantara mereka juga sengaja menjatuhkan telepon Anne ke air. Mereka terus berulah, sampai akhirnya keluarga ini merasa bahwa mereka sedang dipermainkan.
Akhirnya Georg pun tak mampu menahan kesal dan menampar salah satu pemuda itu, namun dari sinilah semuanya berawal..
Paul balas memukul Georg dengan stik golf. dan sejak saat itu, 2 orang pemuda ini --dengan alasan yang absurd-- menyandera keluarga Anne dan mulai memaksa mereka untuk melakukan sebuah permainan dengan kematian sebagai taruhannya.
Review :
( Perhatian review-an dibawah ini mungkin mengandung spoiler, jika kalian belum menonton filmnya, silahkan menghentikan membaca sampai disini. Tapi kalo udah nonton, dan pengen tau interpretasi gue akan film ini, boleh dilanjutin :D )
" I try to give back to violence that what it truly is: pain, injury to another." ( Michael Haneke )
Film diawali dengan aerial-shot adegan mobil keluarga Anne yang akan menuju tempat dimana mereka akan berlibur.
Semangat anti-mainstream atau menjungkir balikkan sesuatu yang 'mapan' udah ditunjukin Haneke di adegan ini, ketika Anne bermain tebak-tebakan lagu di mobil. Di adegan ini, Anne yang awalnya menggunakan musik-musik 'mahal' klasik sebagai bahan tebakan, tiba-tiba mengganti musiknya dengan musik chaotic-thrash-grindcore John Zorn's ( Naked City ). Sebuah pilihan soundtrack yang nggak umum. Kita tahu betapa berisiknya musik Naked City haha..mungkin ini juga sebuah simbol bahwa hidup mereka yang tenang dan damai, akan berubah drastis menjadi 'berantakan'. Se-berantakan musik Naked City nye John Zorn.
Dan semenjak itu, ( kecuali di bagian credit-end ) film total nggak mempunyai scoring/backsound/soundtrack. Begitu lirih dan senyap. rasanya kaya masuk ke sebuah ruangan yang terlihat nyaman, namun begitu senyap. kamu jadi nggak tau apa-apa, dan mulai mengantisipasi apa yang akan terjadi.
Tak perlu berlama-lama, Haneke membuat film yang awalnya berjalan slow ini langsung tancep gas ke kecepatan 150km/jam di 'jalanan psikologis' yang penuh batu. Membiarkan penumpangnya terguncang-guncang tak berdaya. Dan semua itu sebenernya cuma terjadi dalam setting-statis-sempit ( sebuah rumah ) dengan hanya 5 pemaen.
Akting para pemaennya gue akuin sungguh jempolan. Walaupun semua violence disini berlangsung secara off-screen, gue bisa ngerasain ke-putus asa an Anna ( Susane Lothar ) di adegan ketika dia dipaksa untuk menanggalkan baju. Sutradara secara cerdik meng-close up ekspresi Anna yang pasrah dengan air mata yang mulai menetes. Gue juga bisa ngebayangin apa yang terjadi di ruang tamu ketika Peter menembak Georgie. Sementara, tokoh Paul dan Peter tak pernah menampakkan wajah seram, tapi kita begitu muak melihatnya.
Haneke juga memakai teknik one-take long-shot ( lebih dari 10 menit ) yang sebenernya bisa aja jadi ngebosenin, tapi dia menerapkan teknik ini secara jitu dibagian yang paling emosional.
Well, apa yang gue tulis diatas masih terdengar seperti film thriller biasa saja ya hehe
Namun, gue belum nyeritain bagian paling meresahkan dari film ini. oke..
Apa yang paling meresahkan dari film ini?
Oke, sebelumnya gue pengen ngasih tau dulu kalo Haneke itu orang yang membenci kandungan-kekerasan dalam sebuah hiburan. Sebelum film ini, dia pernah membuat film yang juga provokatif mengkritik media+violence : 'Benny's Video' ( 1992 ). Dia benci ama film2 seperti Hostel, Kill Bill, Silence of The Lambs, bahkan Dark Knight dimana kekerasan diglorifkasi secara megah, untuk disoraki penontonnya sebagai hiburan. Bagi dia kekerasan itu tetep kekerasan. disana ada darah, penderitaan dan kematian. tetep sesuatu yang sangat buruk. Dia juga mengaskan, dengan film ini dia berniat 'menampar wajah' per-sinemaan Amerika yang penuh kekerasan. Statement in bisa kalian temui kalo ngeliat interview-nya di segmen feature DVD film ini.
Sekarang langsung ke film ini,
yang menggelisahkan buat gue adalah,
salah satu tokoh-psikopat dalam film ini ( Paul ), seperti sadar sedang berada di dunia imaji-fiksi ( film ), dan berusaha keluar ke 'dunia penonton'. Kamu perhatiin, tokoh Paul beberapa kali terlihat mengerling dan tersenyum ke arah penonton. Bahkan di kesempatan lain dia malah berinteraksi dengan penonton ( gue ),
Kasus seperti ini dalam dunia sinema dikenal sebagai 'breaking the fourth wall' ( menghancurkan tembok ke 4 ) . 'Tembok ke 4' disini maksudnya adalah tembok-imajiner yang ngebatesin antara tontonan dan penonton.
Karena 'tembok' inilah kita menjadi merasa tidak bersalah ketika menyaksikan Monica Belluci diperkosa dengan brutal dalam 'Irreversible', karena 'tembok' ini kita bisa begitu bergembira melihat 'HIt-Girl' nge-bacok musuhnya, karena 'tembok' ini kita bisa menyaksikan The Bride memenggal O-ren-ishii sambil makan keripik. Karena 'tembok' ini, semua yang terjadi di depan layar seakan berada 'nun-jauh-disana'. Sementara kita tetap berada di sofa empuk yang nyaman, terpisah dengan apa yang terjadi di layar TV/film/situs internet/game/buku/komik.
Nah, dalam Funny Games, Haneke dengan ekstrim ngeruntuhin 'tembok' ini dan secara sepihak menyeret kita ( penonton ) untuk terlibat dalam sebuah sajian torture-psychological + violence berdurasi 108 menit!. Haneke membuat objek-penderita di film ini adalah representasi dari penonton yang dianggap gemar meng-konsumsi media-violence, sementara Paul 'dikirim' Haneke kedalam film untuk memuaskan dahaga kita akan sajian kekerasan. it sicks! Bukan hanya itu, tokoh Paul juga bisa menjungkir-balikkan semua pakem/plot yang biasanya ada dalem film action/thriller/horror. Dia mampu melawan keinginan/harapan penonton, dan berkuasa penuh atas apa yang dilakukannya. Semuanya demi tujuan, nunjukin kalo Violence + Media itu mengerikan! Dalam hal ini Haneke menjelaskan,
"...all the rules that usually make the viewer go home happy and contented are broken in my film. There's this unspoken rule that you can't harm animals. What do I do? I kill the dog first thing. The same thing with the boy...I break the illusion. It's the principle of the whole film."
Tokoh Paul bahkan mengajak taruhan penontonnya ( gue ), apakah objek-penderita ( protagonis ) dalam film ini akan selamat seperti dalam film2 horror lainnya atau dirinyalah ( villain ) yang akan menang. Dengan menghadap kamera Paul berkata :
" what do you think? do you think they've a chance of winning? you are on their side, aren't you? so who will you bet with ?"
Ketika salah satu protagonis memohon " hentikanlah..apa yang kalian sudah cukup.."
Pada adegan ini, kita udah nyampe titik mual ama semua yang tersaji di layar dan berharap mereka menghentikan kekejiannya. Tapi tokoh psikopat Paul tiba-tiba menatap kamera dan secara kurang ajar mulai kembali melibatkan penonton (gue) dengan bertanya :
" we're not up to feature film length yet...is that enough? but you want a real ending, with plausible plot development, dont you..?"
Dan semua kekerasan itu terus berlanjut dengan menyesakkan sampai akhir film, seakan-akan penonton ( gue ) merestuinya.
'Funny Games' bukan hanya mengejek penonton film action/thriller/horror , tapi semua konsumen media-violence. Termasuk penonton film kartun 'sadis' Tom & Jerry ( Perhatikan, di sebuah scene Paul memanggil Peter dengan Tom dan Peter memanggil Paul dengan Jerry ) juga tak ketinggalan dia menyerang para pemain game. Ini disimbolin dengan adegan 'remote-control'. Gue nggak akan ber-spoiler lebih banyak dengan menceritakan adegan itu, silahkan kalian tonton dan temukan sendiri adegan 'remote-control' yang gue maksud. hehe selanjutnya film juga dipenuhin ama adegan2 simbolis yang diciptain Haneke dalam rangka mengejek dan menyerang penontonnnya. Termasuk adegan kepala George ditutupi oleh kantung-bantal. Ini adalah sebuah sindiran secara langsung buat industri hiburan yang memilih tetap menayangkan kekerasan/pornografi dengan sensor ( untuk anak-anak ) ketimbang tidak menayangkannya sama sekali.
" i understand too how it embarassed her, with the boy here. Thats why we play 'kitten in the bag' to preserve moral-decency " Kata Paul.
..........................................................
Terus terang, film ini begitu menyakitkan buat gue tonton ( kecuali kalo kamu emang beneran seneng ngeliat karakter tak bersalah di torture secara fisik dan psikologi tanpa penolong dan yang menyebalkannya Haneke melibatkan penonton (gue) pada semua yang terjadi di layar ).
Hufff, Baru kali ini gue nonton film dengan emosi bergejolak, tumpang tindih, tak berdaya, lalu terpelanting keudara tanpa harapan untuk kemudian dihempaskan secara kasar. Dan ketika film berakhir, yang tersisa hanyalah tubuh gue yang hancur berkeping-keping.
Lewat Funny Games, Haneke seakan hendak berkata pada penontonnya "You like violence? I'll show you some REAL violence!! enjoy this violence you faking eshole!! " Telunjuknya mengarah tepat ke orang-orang seperti gue, dan membuat gue tiba-tiba jadi terhukum. Gue akuin Haneke berhasil, jika tujuan filmnya adalah membuat penonton ( gue ) merasa guilty tanpa pleasure seperti ini.
Terus apa kesimpulan gue buat film ini?
Seperti halnya Tim Roth --yang berperan sebagai Georg di versi remakenya ( 2007 )--dia mengaku merasa ditampar oleh film ini dan nggak mau nonton filmnya, gue pun ( sebagai pengkonsumsi media-violence ) merasa kan hal yang sama. Damn you, Haneke!
buat gue sebagai seorang pendosa yang seneng ngeliat orang dibacok dalam film, susah untuk memberi rating film seperti 'Funny Games'.
Buat yang belum nonton : " watch this if you dare......."
Tag: thriller, horror, arthouse, michael haneke
Terkait:
-
The Midnight Meat Train
Jumat, 5 Agu '11 12:01 -
When A Stranger Calls
Minggu, 31 Jul '11 12:55 -
The Loved Ones
Sabtu, 12 Feb '11 00:02
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ibhe: Informatif
-
mabuk janda: Good Take
-
deadeye doll: Informatif
-
Nyc-dj: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
Rijon: Good Take
-
sabai: Informatif
-
AndriaGutama: Good Take
-
aila: Informatif

Komentar:
tapi di -> http://www.imdb.c…e/tt0119167/ ini yang 1997-nya
keduanya bikinan Haneke, yang di review ini yang mana? apakah keduanya film yang sama? mohon pencerahannya
Ke dua filmnya nggak berbeda jauh kok, karena di remake pake teknik shot-to-shot
Anyway, lebih suka "Clockwork Orange"-nya Kubrick. Terlepas dari perbandingan-perbandingan itu, aku suka "Funny Games."
yg helas ini review dahsyat nian...!!
coba tonton man bites dog juga deh...ttg kritik terhadap kekerasan media. hehe
http://bicarafilm…de-chez-vous #promo
dari kutipan di atas, mau koreksi sedikit. A Clockwork Orange itu film tahun 1971...
pas nulis yang keinget malah rilis novel 'clockwork orange' Anhony Burgess nya (1962 ). iya bener filmnya tahun 1971
thanks
pengen segera mengunduh film Funny Games ini.. hehehe
Gua udah nonton film ini, udah agak lama.. tapi gua ga tau kl maksud film ini tuh buat nyindir media yg suka mengumbar kekerasan.
tadinya gua pikir (pas nonton), ini film apaan sih.. aneh dan ga jelas maksudnya. hohohooo...
ternyata oh ternyata..
thanks ya buat reviewnya
Silahkan login untuk memberikan pendapat