'Jendral Sudirman Kalah Strategi' 36

Sabtu, 13 Nov '10 02:48

 

 

 

JungkirBalik Pictures presents a film by Monica Dyah Kusumawati

"Jendral Sudirman Kalah Strategi"

 

 

 

            Suatu hari rombongan Jendral Sudirman bertemu dengan pasukan musuh yang berniat menangkap Jendral Sudirman, namun pasukan Jendral Sudirman sudah mengetahui rencana itu dan akhirnya Jendral Sudirman bersama pasukan sudah bersiap-siap menyerang lawan dengan bersembunyi diantara semak-semak pohon. Kemudian peperangan pun terjadi. Para pasukan Jendral Sudirman berperang dengan semangatnya untuk mengalahkan pasukan musuh dengan senjata rampasan dan seadanya, segala cara dilakukan dan akhirnya pasukan musuh kalah oleh pasukan Jendral Sudirman. Karena merasa kalah dan terhina karena tidak sanggup menangkap Jendral Sudirman hidup atau mati, musuh pun membakar hutan. Salah satu pasukan Jendral Sudirman mengetahui pembakaran itu, kemudian melaporkan kepada Jendral Sudirman dan teman-temannya yang kala itu sedang memberi penghormatan kepada Jendral Sudirman atas kemenangan mereka. Kemudian rombongan Jendral Sudirman meninggalkan hutan yang telah terbakar. Dalam perjalanan melarikan diri dari hutan yang terbakar, rombongan Jendral Sudirman sampai di sebuah padang pasir yang gersang, sama sekali tidak ada tempat untuk berteduh bagi rombongan Jendral Sudirman. Panas dan letih yang dirasakan rombongan Jendral Sudirman hingga persediaan air pun habis. Suasana tersebut dimanfaatkan para musuh untuk menembaki pasukan Jendral Sudirman dari udara dengan menggunakan pesawat tempur. Jendral Sudirman dan pasukan akhirnya tewas karena tidak ada hutan lagi untuk bergerilya dan berlindung.

            Pada film pendek Jendral Sudirman Kalah Strategi ini ingin menyampaikan pesan tentang akibat pemanasan global yang disebabkan habisnya hutan. Dengan mengangkat sejarah perang gerilya Jendral Sudirman tetapi bukan sejarah sebenarnya hanya sebagai simbol dan menegaskan bahwa bila tidak ada hutan, Jendral Sudirman tidak dapat bergerilya dan akhirnya kalah. Dengan maksud pembakaran hutan secara besar-besaran dapat mengakibatkan terganggunya ekosistem yang ada di hutan yang efeknya sangat tidak baik untuk penghuni bumi.

            BAYANGKAN BUMI TANPA HUTAN, TAMAT!

 

 

 

 

 


Tag: UI festival 2010, UIFest2010

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kniwe 1 suka | 0
Wow, keren! Endingnya gak disangka- sangka. Kalo ada design posternya, pasti tambah banyak yg vote. Ayo copas link-nya di FB kamu & share di twitter, supaya makin banyak yg vote. Semoga sukses ya : ))
kniwe 0 0
Komentar ini telah dihapus oleh moderator
kniwe 0 0
Komentar ini telah dihapus oleh moderator
azis 0 0
alur yang tak terduga...
azharachmadi 0 0
Sukses pak Jendral..! Keren
galski77 0 0
sukses masbro
Dimaz Amanta 0 0
sukses komandan : )
ai 0 0
apik mas, nyaingin merah-putih, hiiiihiiii
y pramana jati 0 0
Jadi belajar dar sebuah kesalahan strategi.. Keren!
y pramana jati 0 0
Anti Klise! Like!
afandi azis 0 0
selamat jendral : )
Tukiman 0 0
Gokill,,, Mokad pejuang'a di bag. Ending,,, Selamat Jendral..
sabai 0 0
Keren!!!
Good luck!
Amanda Suwitadi 0 0
SUKSES mbak monic : )
indra KHz 0 0
sip
azharachmadi 1 suka | 0
indra KHz: sup
azharachmadi 0 0
Dimaz Amanta: nggeh...
sonot 0 0
bagos jendral
Febri 0 0
bagus
fajar pensil 0 0
bahan permenunga kita umat manusia di abad ini..
bayangkan jika bumi tanpa hutan,,,.,

mengena..

CAPGOTUN 0 0
KEREN
adibagus 0 0
menggoda : )
takdir syahbana 0 0
wao, matur suwun teman2 skalian.... : )
yoyo 0 0
sukses pak sudirman
septa 0 0
mantab.....bbbbbb... komandan
takdir syahbana 0 0
NB : buat yang bingung vote, pencet aja warna biru kanan poster dan pilih apa yang kamu suka mengenai film ini. thx : )
UI 0 0
nice gan !!
azharachmadi 0 0
pagi gan...
jhosep wisnu 0 0
halo gan...
Rijon 0 0
Karena sudah diundang, rasanya nggak enak kalau enggak memberikan komentar.

-------------------------

Pada dasarnya saya tidak terlalu suka dengan film yang menyuapi pesannya kepada penonton. Saya lebih suka film yang mana saya sendiri sebagai penonton bisa merasakan, mempelajari, dan menelaah sendiri pesan tersebut.

Saya pernah menonton sebuah film pendek tentang pluralisme di Indonesia, bikinan mahasiswa juga. Dan saya tidak nyaman (bukan lagi tida suka, tapi sudah pada tahap tidak nyaman). Karena saya disuapi, yang artinya saya sebagai penonton ditempatkan sebagai orang bodoh yang disuapi dengan pesan-pesan berbuih. Lebih parah lagi, saking berbuihnya pesan tersebut, film tersebut lebih mirip propaganda.

Secara pribadi, saya lebih suka film tentang studi karakter, dilema personal -- intinya sih film yang tidak memosisikan penontonnya sebagai orang bodoh.

Itu cuma pembuka saja.

-------------------------

Untuk "Jendral Sudirman" ini, sebenarnya film ini cukup menarik karena konsepnya yang berusaha menyampaikan pesan berupa problematika modern (present) dengan kisah sejarah yang direka-reka ulang (past).

Sayangnya film ini tidak berhasil melakukannya. Ketidakberhasilan ini terlihat jelas pada pesan diakhir film yang harus disuapkan dalam bentuk verbal. Katakan saja, kata-kata di akhir tesebut dihilangkan, masihkan penonton menangkap muatan "go green" yang ada di film ini? Bisa saja penonton sekedar menangkap kalau film ini cuma sekedar tentang Jendral Sudirman yang berperang di hutan, lalu tersesat di gurun, dan ditembaki mati oleh Belanda. Hal ini juga mengindikasikan minimnya bahasa gambar (bahasa visual) di film ini.

Saya rasa, konsep menarik film ini butuh eksekusi yang lebih jauh lagi untuk berhasil membiaskan dua unsur tersebut, dan tentunya, lebih berhasil menyatukan antara pesan dan cerita.

-------------------------

Salam.

Ka lau enggak penting bisa diskip saja. Itu cuma komentar asal-asalan dari bocah 18 tahun yang cuma hobi nonton film kok, gak punya pengalaman apa-apa selain itu.
Rijon 0 0
O iya, sebenarnya saya sudah dari awal nontnnya, cuma komentarnya ditahan dulu aja.....
jamur 0 0
[ Sayangnya film ini tidak berhasil melakukannya. Ketidakberhasilan ini terlihat jelas pada pesan diakhir film ........mati oleh Belanda. Hal ini juga mengindikasikan minimnya bahasa gambar (bahasa visual) di film ini. ]


banyak orang yg berkomentar seperti ini....tapi hampir semuanya orang film. karena bagi penonton umum, mereka belum terbiasa dgn bahasa visual atau pun semiotika visual. ; ))
Rijon 0 0
jamur:
Dan saya bukan orang film. : p
Kan sudah saya jelaskan:

[Itu cuma komentar asal-asalan dari bocah 18 tahun yang cuma hobi nonton film kok, gak punya pengalaman apa-apa selain itu.]
jamur 0 0
Rijon: : ))
rohanisyawaliah 0 0
: D
agus wibisono 0 0
maaf.. sudah lama tidak login.. *lupa passwordnya. hehehe..

o iya, dimana saya bisa nonton film ini?? *ketinggalan berita..

Silahkan login untuk memberikan pendapat