DREAM HOUSE : SHERIDAN'S ALMOST ALAN SMITHEE PROJECT 1

Selasa, 7 Feb '12 19:08

DREAM HOUSE

Sutradara : Jim Sheridan

Produksi : Morgan Creek Productions & Universal Pictures, 2011

            I don't know how to put this so it doesn't look like a gossip news. Tapi terkadang, carut-marut dalam produksi sebuah film, terjadi. 'Dream House' adalah sebuah korban dari cinematic event itu. Tak ada yang salah sebenarnya dalam twisting plotnya yang meski bukan lagi menawarkan sesuatu yang baru, tapi bisa saja jadi bagus asal ditangani dengan benar. Sineas yang terlibat di dalamnya juga bukan sekedar 'you don't know who'. Ada sutradara Jim Sheridan yang sebagian besar karyanya termasuk 'Oscar acclaimed', dari 'My Left Foot', 'In The Name Of The Father' hingga 'Brothers'. And named the others. Daniel Craig dan Rachel Weisz yang akhirnya jadi pasangan suami istri setelah ini, dan Naomi Watts. Sinematografernya juga tak kalah hebat. Caleb Deschanel (The Patriot, The Passion Of The Christ), Zooey Deschanel's dad, yang sudah memperoleh lima nominasi Oscar. Bukan mereka tak bekerja dengan benar, tapi sejak awal, Sheridan memang sudah ribut-ribut dengan produser James G. Robinson dari Morgan Creek dalam proses produksinya, hingga ingin menarik namanya dari kredit. Dampaknya merembet pada hasil final cut 'Dream House' yang sama sekali tak disukai oleh Craig dan Weisz sampai mereka menolak terlibat dalam press promotion maupun interview-nya. Perseteruan itu lantas mungkin membuat ego Robinson makin memuncak. Tanpa preview untuk kritikus, 'Dream House' tak di re-cut atau re-edit, tapi tetap dilepas ke pasar, lengkap dengan sebuah trailer yang sudah jelas memaparkan semua twistnya. Sasarannya jelas untuk menghantam Sheridan dan para aktor yang melawan Morgan Creek. Tapi begitulah, mau se-spoiler apapun trailer yang terkesan bunuh diri itu, Robinson mungkin tetap yakin bahwa line-up cast dan crew-nya tetap akan menggiring penonton menyaksikan filmnya. Hasilnya, tak hanya dihajar oleh review kritikus, perolehan box office-nya juga sama jeleknya, paling tidak untuk kehadiran nama-nama besar tadi. But let's admit, sebagai penonton, kita juga tak bakal melewatkan film ini.

            Will Atenton (Daniel Craig), seorang publisher buku sukses baru saja melepas pekerjaannya untuk meluangkan waktu bersama keluarga sambil memfokuskan niatnya menjadi penulis. Bersama istrinya, Elizabeth (Rachel Weisz) dan dua putrinya (Claire & Taylor Geare), mereka pindah dari kota besar ke sebuah rumah tua daerah pinggiran kota. Namun ketenangan mereka terusik ketika dua putrinya mulai merasakan ada seorang pria misterius yang mengintai rumah mereka, diikuti sekelompok remaja yang menggunakan basement rumah itu sebagai tempat pemujaan. Will mulai menyelidiki latar belakang rumah barunya termasuk pada tetangganya, Ann Patterson (Naomi Watts), dan menemukan sejarah kelam terbunuhnya seorang wanita dengan dua anak perempuannya di rumah itu, sementara sang suami bernama Peter Ward yang menjadi suspek utama melarikan diri entah kemana. Will pun mulai menelusuri keberadaan Peter Ward yang dicurigainya sebagai pria misterius itu,  sementara sebuah rahasia masa lalu Will perlahan mulai kembali padanya. Kalau Anda sudah menyaksikan trailernya, then you'll already know where it goes.

            Plot itu sebenarnya tak punya salah apa-apa. Penyutradaraan Sheridan yang sebelumnya sudah menyuguhkan kita film-film se-dahsyat 'My Left Foot', 'In The Name Of The Father' bahkan 'Brothers' pun bukan sama sekali faktor kesalahan paling besar walaupun tema-tema seperti ini kelihatan sedikit kelewat ringan untuk pendalaman biasanya hingga tak begitu terasa punya sentuhan Sheridan. Sinematografinya cukup baik, dan begitu juga akting tiga pemeran sentral Craig-Weisz dan Watts. Tapi itu kalau potongan-potongan puzzlenya disusun dengan tepat. Kenyataannya, tidak begitu. Naskah dengan kredit pada David Loucka yang sudah diperdebatkan Sheridan bersama Robinson dari Morgan Creek sejak awal mungkin menjadi kunci terhadap pembukaan twist yang terasa kelewat cepat untuk memanjang-manjangkan konflik menuju bagian akhirnya, yang malah tak lagi menarik untuk diikuti, bahkan dengan bangunan dramatisasi genre-genre sejenis yang disempalkan menjelang film berakhir, yang akhirnya jadi terasa kosong dan serba mentah. Belum lagi trailer yang akhirnya menjadi ekses ego dari perseteruan yang terjadi selama produksinya. But then again, semua sudah terjadi, dengan Sheridan sebagai korban terbesar atas kebesaran namanya sebagai sutradara handal. Jadi apa boleh buat. Walau 'Dream House' secara keseluruhannya memang bukan sekedar film sampah, tapi hasilnya sungguh berbanding terbalik dengan nama-nama besar di belakangnya. Mengecewakan. (dan)

           danieldokter.wordpress.com

 

 


Tag: review, Naomi Watts, Jim Sheridan, Daniel Craig, Dream House, James G Robinson, Rachel Weisz

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

dannioo 0 0
Hi mas Daniel, salam kenal.

Yak betul, gw setuju dengan review mu. Bahkan menurutku 75 persen dari film ini udah berjalan bagus. Gw ngga mempermasalahkan twistnya yang seperti Shutter Island diungkapkan di tengah film. Dan juga ngga keberatan ketika penjahat sebenarnya terungkap. Masalahnya di scene closing film ini sangat kosong. Tidak ada drama untuk membuat scene menjadi lebih wajar, malah terlihat tidak peduli. (anak watts yang datang ketika rumah terbakar.)

Sayang jika film dengan susunan kru dan cast nya sekaliber mereka hancur karena tidak mau mengesampingkan ego. Mengecewakan.

Silahkan login untuk memberikan pendapat