The Artist: Silence is Golden 3

Sabtu, 25 Feb '12 17:34

Di zaman modern ini dengan segala kecanggihan teknologinya, termasuk teknologi di industri perfilman, sebuah film berhasil menarik perhatian penonton dunia karena keunikannya. Sebuah film hitam putih, bisu dan 'kotak'. Film hitam putih di masa modern sebenarnya pernah dibuat, seperti Schindler's List, Good Night and Good Luck, dan Raging Bull. Tetapi The Artist membawa terobosan ini lebih jauh lagi: film ini berformat 'kotak' (4:3 atau istilahnya 'Academy ratio') bukan widescreen layaknya sebuah film modern, dan uniknya film ini adalah film bisu (silent film). 

Film bisu adalah format yang lazim di dekade 1910-20an. Satu aktor yang mungkin anda pernah lihat cuplikan filmnya adalah Charlie Chaplin. Ya, seperti itulah film The Artist ini. Tidak ada dialog yg terdengar, namun hampir sepanjang film akan dipenuhi oleh musik pengiring (score). Jadi jangan takut dulu dengan istilah film bisu, karena bukan berarti sepanjang keseluruhan film anda tidak akan mendengar suara apapun.

Berkisah tentang seorang aktor film bisu terkenal, George Valentin (Jean Dujardin) yang berkarisma. Di tengah-tengah premiere film terbarunya, George tak sengaja dipertemukan dengan Peppy Miller (Bérénice Bejo), seorang aktris muda yang baru memulai karirnya di Hollywood. George berhasil memberikan Peppy peran pertamanya, sehingga Peppy sedikit demi sedikit berhasil menjadi aktris yang sukses di Hollywood.

Sampai akhirnya suatu saat teknologi suara perlahan-lahan menggantikan film bisu. "The world is talking now," kata kepala studio film Al Zimmer (John Goodman). Karena George tak sudi berperan dalam film talkies ("the world does not need to hear me speak!"), George ditinggalkan penggemar dan dilupakan Hollywood. George jatuh miskin, diceraikan Doris, istrinya (Penelope Ann Miller) dan hanya ditemani Clifton (James Cromwell), supirnya yang setia, dan juga anjingnya yang cerdas (diperankan dengan sangat menawan oleh seekor anjing bernama Uggie). Akankah George berhasil meraih kesuksesan, cinta dan kebahagiaannya kembali?

Film ini mengejutkan bagi saya, karena walaupun para aktor tidak terdengar suaranya (diberikan tulisan di antara dialog untuk membantu penonton - ini disebut intertitle/title card), The Artist tetap mampu membuat saya tertawa dan terharu di beberapa adegannya. Akting para pemainnya, terutama 2 aktor-aktris utamanya sangat meyakinkan dan ekspresif, sehingga di akhir film kita bahkan akan mampu berempati pada karakter George dan Peppy. It's surprising how you can feel so much with so little words. Dan mungkin itulah tujuan sutradara dan penulis Michel Hazanavicius membuat film ini. Selain sebagai penghormatan kepada era silent films, dia juga ingin para penonton kembali ke esensi dasar: menonton film adalah sebuah pengalaman emosional yang kadang tak perlu direpotkan dengan berbagai macam efek 3D atau CGI. Dengan cerita yang bagus dan penggarapan yang maksimal di semua aspeknya, sebuah film akan tetap mampu menggugah penontonnya.

Selain penyutradaraan dan akting mereka yang mengagumkan, The Artist juga menghadirkan musik gubahan Ludovic Bource. Musik ini mampu memberikan rasa sekaligus memperkuat emosi setiap adegan yang hadir di layar perak. Apabila memungkinkan, saksikanlah film ini pertama kali di bioskop karena saya yakin anda akan mendapatkan pengalaman menonton yang akan sulit dilupakan.

The Artist berhasil meraih 10 nominasi Oscar 2012, termasuk Best Picture. Kita nantikan hasilnya 26 Februari mendatang. Bravo for The Artist!

9/10


Tag: bicarafilm, Oscar 2012, The Artist

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

jim96 0 0
kualitas seperti inilah yg dicari juri Academy Awards ketimbang film lain yang dijagokan seperti Hugo
sabai 0 0
Kak Jim96 apa kabar? lama nggak nongol... hehehe...
sabai 0 0
Iya, the Artist keren banget, membuatku terkesima. Nggak heran dia menjadi film yang paling banyak diulas awal tahun ini : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat